Pages

Selasa, 12 Juli 2011

KELUARLAH DARI ZONA NYAMAN


Pernahkah Anda mengamati ketika Anda tidur dan merasa posisi Anda tidak nyaman tentu Anda akan merubah posisi tidur Anda hingga Anda merasa nyaman. Setelah Anda mendapatkan posisi yang nyaman maka Anda akan terlelap dan tidak mengubah posisi Anda lagi. Anda akan merasa nyaman dengan posisi Anda sekarang dan pasti Anda ingin berlama-lama menikmati posisi tersebut dan enggan untuk merubahnya.
Sama halnya dengan kehidupan Anda, ketika Anda sudah merasa nyaman dengan kondisi hidup Anda, maka Anda cenderung berdiam diri saja menikmati kondisi tersebut. Ketika Anda nyaman dengan suasana libur sekolah, tidak ada tugas, tidak perlu belajar, dan hanya bersantai-santai di rumah. Kondisi tersebut membuat kita terlena dan enggan untuk melakukan hal baru. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut maka selamanya Anda tidak akan mengalami perubahan dalam hidup Anda. Anda tidak akan pernah maju !
Melakukan hal yang aman dan nyaman justru nantinya akan menjadi hal yang paling tidak aman dan tidak nyaman untuk hidup Anda. Karena keadaan yang aman dan nyaman tidak akan mendorong Anda untuk melakukan perubahan. Dan jika Anda tidak melakukan perubahan maka hidup Anda juga tidak akan pernah berubah. Anda tidak akan mengalami peningkatan apapun dalam hidup Anda. Oleh karena itu untuk peningkatan hidup Anda, keluarlah dari zona nyaman Anda sekarang juga dan lakukan perubahan yang berarti. Perubahan yang nantinya akan merubah hidup Anda menjadi jauh lebih baik dari sekarang. ^^

Senin, 11 Juli 2011

MENULIS DENGAN HATI, TEMBUS GRAMEDIA

Satu hal yang sering mengganjal hasrat saya dalam menulis buku adalah bagaimana buku saya bisa menembus penerbit. Keraguan itu telah beberapa kali menghentikan langkah saya dalam menulis. Sebelumnya saya pernah membayangkan sulitnya bisa menembus penerbit. Bayang-bayang ketidakmungkinan (impossibility) selalu menghantui pikiran saya saat itu. Dampak buruk dari Bayang-bayang impossibility tersebut seringkali mengendorkan semangat saya dalam menulis.
Hal itu sebenarnya bertentangan dengan prinsip menulis. Prinsip menulis yang benar adalah “tuangkan seluruh ide atau gagasan yang ada di benak kita kedalam bentuk tulisan”. Abaikan dulu kualitas tulisan. Yang terpenting adalah tumpahkan seluruh amunisi (materi tulisan) yang Anda miliki dan jangan berhenti sebelum amunisinya habis. Yang demikian ini adalah prinsip menulis yang benar.
Bagaimana dengan kualitas tulisan? Kualitas tulisan dapat Anda lakukan pada sesi editing. Secara singkat dapat saya simpulkan bahwa menulis yang efektif dapat Anda lakukan melalui dua langkah yaitu Proses Menulis dan Proses Editing. Proses menulis adalah saat bagi seorang penulis untuk menumpahkan seluruh ide/gagasan yang sudah terkumpul di kepala. Sedangkan proses editing merupakaan saat dimana seorang penulis memperbaiki kualitas tulisan.
Manakala kedua langkah itu sudah Anda lakukan, saatnya bagi Anda untuk mengirimkan hasil tulisan Anda ke media masa/media cetak, situs di dunia maya, atau ke penerbit. Di era teknologi informasi seperti sekarang ini, menerbitkan tulisan ternyata tidak sesulit yang kita bayangkan. Hanya dengan mengirimnya via email keinginan Anda mengembangkan semangat berbagi bisa terwujud.
Bentuk tulisan yang Anda kirim bisa berupa artikel atau naskah buku, tergantung pilihan Anda. Mengirim artikel relatif sama prosesnya dengan mengirim naskah buku ke penerbit. Menulislah dengan hati, didasari oleh hasrat untuk mengembangkan semangat berbagi, tulus agar bisa mengispirasi orang lain.
Jika Anda menjatuhkan pilihannya ke penerbit kelas kakap seperti Gramedia Pustaka Utama atau mungkin Elek Media Komputindo, maka dominasi buku-buku yang Anda beli sebaiknya buku-buku terbitan Gramedia, Elek Media Komputindo, atau penerbit-penerbit yang lain. Hal ini dimaksudkan agar Anda bisa mengetahui dan menyesuaikan hasil karya Anda dengan mutu dan bentuk buku-buku yang menjadi selera mereka. Agendakan waktu Anda dan alokasikan sebagian rejeki Anda untuk membeli buku secara rutin dan nikmati manfaat yang luar biasa dari membeli buku. Nikmati juga kebahagiaan Anda dari berbagi ilmu pengetahuan khususnya lewat hasil karya tulisan Anda.
Selamat berbagi, semoga bisa mencerahkan Indonesia.
Data tentang penulis:
SUPANDI, S.Pd, MM.
Penulis Buku “Menyiapkankan Kesuksesan Anak Anda” Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Pengurus Agupena Kabupaten Cilacap
Pengurus ISPI Kabupaten Cilacap
Ketua MGMP Bahasa Inggris SMP Kabupaten Cilacap
Staf Pengajar di SMP Negeri 2 Binangun Kab. Cilacap
email : supandi_mm@yahoo.com

Minggu, 10 Juli 2011

“SUKSES SAJA” TIDAK CUKUP

Pernahkah Anda menemui seseorang yang sukses dengan kekayaan yang melimpah namun tidak merasa bahagia dengan hidupnya ? mereka masih merasa ada kekosongan dalam hidupnya meskipun telah memiliki kekayaan dan hidup yang mewah. Jika kekayaan, pangkat, ilmu, dan popularitas tidak serta-merta menghadirkan kehidupan yang terbaik, maka dimanakah kebahagiaan yang sesungguhnya itu bersembunyi ?
Kebahagiaan yang sesungguhnya hadir manakala kita mulai membuka diri untuk orang lain, dan menjadi bagian penting dalam hidup mereka. Kebahagiaan itu hadir, ketika apa yang kita miliki, kekayaan, pangkat, ilmu, maupun popularitas, mampu mengurai senyuman mereka, dan menjadikan hidup mereka lebih baik.
Setinggi apapun pencapaian Anda di dalam hidup ini, tidak akan memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya, jika semua pencapaian itu tidak memberikan dampak kebaikan bagi orang-orang di sekitar Anda. Mungkin untuk sesaat, semua pencapaian itu akan membuat Anda senang, tapi kesenangan itu semu dan mudah hilang. Semu, karena kekayaan, pangkat, ilmu, maupun cinta yang telah Anda raih, tidak mempunyai makna, dan mudah hilang, karena Anda akan selalu merasa kurang.
Itulah alasan mengapa “sukses saja” tidak cukup. Sukses seseorang ditandai dengan pencapaian 4-TA, yaitu harta (kekayaan), tahta (pangkat), kata (ilmu), dan cinta (popularitas) yang tinggi. Ketika salah satu saja dari 4-TA Anda tinggi, maka Anda boleh menyebut diri Anda sukses.
Namun sukses saja tidak menjamin mampu membuat kita merasakan kehidupan yang terbaik. Sukses harus disertai dengan mulia. Jika kesuksesan seseorang itu ditandai dengan 4-TA yang tinggi, maka kemuliaan seseorang akan ditandai dengan seberapa besar Ia mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
Untuk menikmati kehidupan terbaik, Anda harus mampu meraih sukses dan mulia sekaligus. Milikilah harta, tahta, kata, dan cinta yang tinggi, kemudian jadikan 4-TA yang tinggi tersebut sebagai sumber manfaat sebesar-besarnya bagi orang lain. Ketika sukses dan mulia berhasil Anda miliki pada saat yang sama, maka saat itulah kebahagiaan yang sejati dapat Anda rasakan sepenuhnya.

Adapted from : DNA Sukses Mulia (Farid Poniman, Indrawan Nugroho, Jamil Azzaini),
Gramedia publisher

APAKAH ANDA TERMASUK ORANG YANG CERDAS ?

Kita memang dilahirkan dengan tingkat kecerdasan yang berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya. Namun tidak ada gunanya membanding-bandingkan tingkat kecerdasan seseorang dengan orang lain. Dalam hal ini, hal paling bijak yang dapat Anda lakukan adalah dengan memaksimalkan kecerdasan yang ada pada diri Anda. Bagaimana caranya ? caranya adalah dengan menggunakan otak sesering mungkin, agar jutaan dendrit yang ada di dalamnya tersambung satu sama lain. Semakin banyak dendrit yang tersambung dalam otak kita, kita akan semakin cerdas. Cara paling intensif adalah dengan belajar, seperti membaca buku, berdiskusi, mempersepsi keadaan sekitarnya, terlibat dalam persoalan yang rumit, dan mencoba mencari sistematika permasalahan dan jalan keluarnya.
Bagaimana cara kita mengetahui apakah seseorang itu cerdas atau tidak ? dan bagaimana cara mengetahui seberapa cerdas seseorang ? berikut adalah lima macam pendekatan yang sering digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang.  
1.      1. Pengukuran Empat Quotient
Pengukuran menggunakan model quotient adalah yang paling populer saat ini. Prinsp-prinsip kecerdasan diukur dengan menggunakan quotient, yang terdiri dari Physical Quotient (PQ), Intelligence Quotient (IQ), Creativity Quotient (CQ), dan Emotional Quotient (EQ). Physical Quotient diukur untuk mengetahui tingkat kemampuan seseorang secara fisik, Intelligence Quotient digunakan untuk mengukur kecerdasan kuantitatif seseorang, Creativity Quotient diukur untuk mengetahui tingkat kreativitas seseorang, dan Emotional Quotient digunakan untuk mengukur kematangan emosi seseorang.  
2.      2. Penguasaan Kecerdasan Nurani
Kecerdasan nurani atau sering disebut pula Spiritual Quotient (SQ) merupakan kecerdasan yang berada pada posisi yang lebih tinggi dari keempat kecerdasan yang telah disebutkan sebelumnya dan memiliki fungsi unitif, yang menyatukan serta mengoptimalkan PQ, IQ, CQ, dan EQ.
Indikator orang yang memiliki SQ yang baik adalah ketika dirinya mengetahui seberapa dekat ia dengan kematiannya. Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual yang baik adalah seseorang yang selalu termotivasi untuk melakukan yang terbaik, di jalur yang benar dengan tujuan yang pasti dan diyakininya. Mereka juga selalu mengisi hidupnya dengan kemuliaan, sampai ia memiliki perasaan selalu siap menghadapi kematian.
Kecerdasan nurani merupakan kecerdasan tertinggi dalam meniti jalan keseimbangan akal dan kalbu. Keseimbangan akal dan kalbu membuat seseorang menjadi sangat pintar dan juga sangat bijak. Semua pilihan yang berada pada keseimbangan akal dan kalbu akan memiliki kebenaran mutlak dan berlaku universal di semua jenis lokasi dan semua jenis waktu. Pada garis keseimbangan itulah, akal akan mengatakan hal tersebut benar dan pada saat yang sama kalbupun membenarkan. Kecerdasan nurani akan membantu Anda melihat segala sesuatu dengan lebih jernih   
3.      3. Pendekatan Kompetensi Waktu
Kecerdasan dapat terlihat dari kompetensi seseorang dalam memanfaatkan waktu. Kebiasaan lalai dan menunda menunjukkan ketidakcerdasannya menangani hidup. Waktu merupakan asset yang paling berharga setelah ruh, akal, dan kalbu. Waktu begitu penting dan berharga karena memiliki empat sifat utama yaitu : tidak dapat digantikan (unsubstitutive), tidak dapat diperbaharui (unrenewable), tidak dapat dipindahtangankan (untransferable), dan tidak dapat disimpan (no saving). Bagaimana seseorang memandang, menyikapi, dan memanfaatkan waktu yang dia miliki merupakan indicator kuat dalam melihat ukuran kecerdasannya.
4.      4. Kemampuan Menggeser Titik Tumpu (Valensi)
Menggeser titik tumpu dapat dijelaskan sebagai berikut. Jika Anda seorang karyawan di perusahaan dan ingin naik jabatan, Anda harus bisa berfikir dan mengambil peran sebagaimana jabatan baru yang diincar. Maksudnya, jika Anda ingin menjadi manajer, Anda harus menggeser titik tumpu—dalam bentuk kemampuan berfikir dan kualitas kerja— menjadi titik tumpu seorang manajer.
Kemampuan menggeser titik tumpu (peningkatan valensi) merupakan hasil kecerdasan seseorang dengan memanfaatkan salah satu atau semua mesin kecerdasan yang dimiliki. Jadi seberapa cerdas Anda, dapat terlihat dari seberapa jauh Anda mampu menggeser titik tumpu.
5.      5. Lima Mesin Kecerdasan STIFIn
Pada otak kita terdapat lima belahan otak dominan yang berbeda kerjanya. Belahan-belahan otak inilah yang kemudian melahirkan sistem operasi manusia dalam bentuk kepribadian. Jika kualitas hardware dari belahan otak tersebut bagus, sistem operasinya akan bekerja lebih optimal. Hal itulah yang disebut dengan kecerdasan. Masing-masing belahan itulah yang menjadi mesin kecerdasan manusia.
Kelima mesin yang dimaksud adalah otak kiri bawah (limbik kiri), otak kiri atas (neokorteks kiri), otak kanan atas (neokorteks kanan), otak kanan bawah (limbik kanan), dan otak tengah (hindbrain dan midbrain). Kelima belahan otak tersebut memiliki fungsi masing-masing. Belahan otak kiri bawah sebagai mesin kecerdasan S (Sensing), otak kiri atas sebagai mesin kecerdasan T (Thinking), mesin kecerdasan I (Intuiting) untuk belahan otak kanan atas, mesin kecerdasan F (Feeling) untuk belahan otak kanan bawah, dan mesin kecerdasan In (Instinct) untuk begian otak tengah. Sebagai sebuah kesatuan mesin kecerdasan, dapat disebut sebagai lima mesin kecerdasan STIFIn.
Dari lima mesin kecerdasan tersebut, ada salah satu mesin kecerdasan Anda yang lebih dominan daripada yang lainnya. Mesin kecerdasan dominan kerjanya akan didukung oleh mesin kecerdasan lainnya. Dengan mengenal mesin-mesin kecerdasan, Anda akan mengetahui letak kekuatan dan kelemahan Anda sendiri sehingga Anda dapat berperan secara tepat dalam menjalankan tugas-tugas.   
Adapted from : Kubik Leadership (Farid Poniman, Indrawan Nugroho, Jamil Azzaini),
Gramedia publisher

Mengenai Saya

Foto saya
I am a college student at Gadjah Mada University, and I am studying healtlh nutrition.