Kita memang dilahirkan dengan tingkat kecerdasan yang berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya. Namun tidak ada gunanya membanding-bandingkan tingkat kecerdasan seseorang dengan orang lain. Dalam hal ini, hal paling bijak yang dapat Anda lakukan adalah dengan memaksimalkan kecerdasan yang ada pada diri Anda. Bagaimana caranya ? caranya adalah dengan menggunakan otak sesering mungkin, agar jutaan dendrit yang ada di dalamnya tersambung satu sama lain. Semakin banyak dendrit yang tersambung dalam otak kita, kita akan semakin cerdas. Cara paling intensif adalah dengan belajar, seperti membaca buku, berdiskusi, mempersepsi keadaan sekitarnya, terlibat dalam persoalan yang rumit, dan mencoba mencari sistematika permasalahan dan jalan keluarnya.
Bagaimana cara kita mengetahui apakah seseorang itu cerdas atau tidak ? dan bagaimana cara mengetahui seberapa cerdas seseorang ? berikut adalah lima macam pendekatan yang sering digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang.
1. 1. Pengukuran Empat Quotient
Pengukuran menggunakan model quotient adalah yang paling populer saat ini. Prinsp-prinsip kecerdasan diukur dengan menggunakan quotient, yang terdiri dari Physical Quotient (PQ), Intelligence Quotient (IQ), Creativity Quotient (CQ), dan Emotional Quotient (EQ). Physical Quotient diukur untuk mengetahui tingkat kemampuan seseorang secara fisik, Intelligence Quotient digunakan untuk mengukur kecerdasan kuantitatif seseorang, Creativity Quotient diukur untuk mengetahui tingkat kreativitas seseorang, dan Emotional Quotient digunakan untuk mengukur kematangan emosi seseorang.
2. 2. Penguasaan Kecerdasan Nurani
Kecerdasan nurani atau sering disebut pula Spiritual Quotient (SQ) merupakan kecerdasan yang berada pada posisi yang lebih tinggi dari keempat kecerdasan yang telah disebutkan sebelumnya dan memiliki fungsi unitif, yang menyatukan serta mengoptimalkan PQ, IQ, CQ, dan EQ.
Indikator orang yang memiliki SQ yang baik adalah ketika dirinya mengetahui seberapa dekat ia dengan kematiannya. Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual yang baik adalah seseorang yang selalu termotivasi untuk melakukan yang terbaik, di jalur yang benar dengan tujuan yang pasti dan diyakininya. Mereka juga selalu mengisi hidupnya dengan kemuliaan, sampai ia memiliki perasaan selalu siap menghadapi kematian.
Kecerdasan nurani merupakan kecerdasan tertinggi dalam meniti jalan keseimbangan akal dan kalbu. Keseimbangan akal dan kalbu membuat seseorang menjadi sangat pintar dan juga sangat bijak. Semua pilihan yang berada pada keseimbangan akal dan kalbu akan memiliki kebenaran mutlak dan berlaku universal di semua jenis lokasi dan semua jenis waktu. Pada garis keseimbangan itulah, akal akan mengatakan hal tersebut benar dan pada saat yang sama kalbupun membenarkan. Kecerdasan nurani akan membantu Anda melihat segala sesuatu dengan lebih jernih
3. 3. Pendekatan Kompetensi Waktu
Kecerdasan dapat terlihat dari kompetensi seseorang dalam memanfaatkan waktu. Kebiasaan lalai dan menunda menunjukkan ketidakcerdasannya menangani hidup. Waktu merupakan asset yang paling berharga setelah ruh, akal, dan kalbu. Waktu begitu penting dan berharga karena memiliki empat sifat utama yaitu : tidak dapat digantikan (unsubstitutive), tidak dapat diperbaharui (unrenewable), tidak dapat dipindahtangankan (untransferable), dan tidak dapat disimpan (no saving). Bagaimana seseorang memandang, menyikapi, dan memanfaatkan waktu yang dia miliki merupakan indicator kuat dalam melihat ukuran kecerdasannya.
4. 4. Kemampuan Menggeser Titik Tumpu (Valensi)
Menggeser titik tumpu dapat dijelaskan sebagai berikut. Jika Anda seorang karyawan di perusahaan dan ingin naik jabatan, Anda harus bisa berfikir dan mengambil peran sebagaimana jabatan baru yang diincar. Maksudnya, jika Anda ingin menjadi manajer, Anda harus menggeser titik tumpu—dalam bentuk kemampuan berfikir dan kualitas kerja— menjadi titik tumpu seorang manajer.
Kemampuan menggeser titik tumpu (peningkatan valensi) merupakan hasil kecerdasan seseorang dengan memanfaatkan salah satu atau semua mesin kecerdasan yang dimiliki. Jadi seberapa cerdas Anda, dapat terlihat dari seberapa jauh Anda mampu menggeser titik tumpu.
5. 5. Lima Mesin Kecerdasan STIFIn
Pada otak kita terdapat lima belahan otak dominan yang berbeda kerjanya. Belahan-belahan otak inilah yang kemudian melahirkan sistem operasi manusia dalam bentuk kepribadian. Jika kualitas hardware dari belahan otak tersebut bagus, sistem operasinya akan bekerja lebih optimal. Hal itulah yang disebut dengan kecerdasan. Masing-masing belahan itulah yang menjadi mesin kecerdasan manusia.
Kelima mesin yang dimaksud adalah otak kiri bawah (limbik kiri), otak kiri atas (neokorteks kiri), otak kanan atas (neokorteks kanan), otak kanan bawah (limbik kanan), dan otak tengah (hindbrain dan midbrain). Kelima belahan otak tersebut memiliki fungsi masing-masing. Belahan otak kiri bawah sebagai mesin kecerdasan S (Sensing), otak kiri atas sebagai mesin kecerdasan T (Thinking), mesin kecerdasan I (Intuiting) untuk belahan otak kanan atas, mesin kecerdasan F (Feeling) untuk belahan otak kanan bawah, dan mesin kecerdasan In (Instinct) untuk begian otak tengah. Sebagai sebuah kesatuan mesin kecerdasan, dapat disebut sebagai lima mesin kecerdasan STIFIn.
Dari lima mesin kecerdasan tersebut, ada salah satu mesin kecerdasan Anda yang lebih dominan daripada yang lainnya. Mesin kecerdasan dominan kerjanya akan didukung oleh mesin kecerdasan lainnya. Dengan mengenal mesin-mesin kecerdasan, Anda akan mengetahui letak kekuatan dan kelemahan Anda sendiri sehingga Anda dapat berperan secara tepat dalam menjalankan tugas-tugas.
Adapted from : Kubik Leadership (Farid Poniman, Indrawan Nugroho, Jamil Azzaini),
Gramedia publisher
Adapted from : Kubik Leadership (Farid Poniman, Indrawan Nugroho, Jamil Azzaini),
Gramedia publisher


Tidak ada komentar:
Posting Komentar